Dampak Kemangkrakan Pasar Munjul, Pedagang Terpaksa Bertahan di Kios Sederhana, Pemprov DKI Abaikan Nasib Pedagang Selama 10 Tahun?

Jakarta – Dengan kondisi revitalisasi yang mangkrak selama sepuluh tahun, memiliki dampak kemangkrakan pasar Munjul yang sangat mempengaruhi para pedagang dan mereka terpaksa meratapi nasib di kios-kios sederhana yang mereka bangun sendiri.

Pasar Munjul, yang terletak di Kelurahan Munjul, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, telah menjadi saksi bisu dari derita para pedagangnya selama satu dekade terakhir.

Keberadaan pasar yang mandek dalam pembangunan ini telah mencoreng citra pemerintah daerah, terutama Pemprov DKI Jakarta, yang tampaknya enggan mengakui dan mengatasi masalah yang dihadapi oleh para pedagang setempat.

Pasar Munjul, pada awalnya, merupakan salah satu pusat perdagangan yang ramai dan vital di wilayah Jakarta Timur. Namun, harapan itu layu seiring dengan pembangunan gedung pasar yang terhenti sejak tahun 2014.

Dengan anggaran sebesar Rp10,2 miliar yang telah dihabiskan untuk proyek tersebut, pasar yang semestinya menjadi pusat ekonomi masyarakat kini menjadi saksi bisu dari kegagalan pembangunan yang memalukan.

Para pedagang, yang seharusnya menjadi penopang ekonomi lokal, kini terpaksa berjuang untuk bertahan hidup dengan modal dan usaha mereka sendiri.

Mereka telah membangun kios-kios semi permanen di area parkir sejak delapan tahun lalu, sebagai respons terhadap kegagalan pembangunan yang menyebabkan tempat penampungan yang disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta roboh.

Meskipun terus berjuang dan berusaha meminta bantuan kepada pihak berwenang, termasuk mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan DPRD DKI Jakarta, upaya mereka terasa sia-sia karena tidak ada solusi yang diberikan.

“Kami berharap agar Pemprov DKI Jakarta, khususnya Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah (PPKUKM), segera mengambil tindakan untuk melanjutkan revitalisasi Pasar Munjul.

Kondisi pasar yang tidak layak bukan hanya merugikan kami secara finansial, tetapi juga mengancam kelangsungan usaha kami di masa depan,” ujar salah satu pedagang, Safinah, dengan suara penuh keprihatinan.

Baca Juga  Pemerintah Perkenalkan Program "Satu Desa, Satu Produk" untuk Mendongkrak Ekonomi Lokal

Dampak dari kemangkrakan pasar ini tidak hanya dirasakan oleh para pedagang, tetapi juga oleh masyarakat sekitar yang bergantung pada pasar tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penurunan drastis omzet para pedagang menjadi cerminan dari kondisi pasar yang semakin tidak layak dan tidak menarik bagi pembeli.

Seiring dengan kondisi pasar yang semakin memburuk, para pedagang juga harus merelakan penghasilan mereka yang semakin menipis.

Hingga berita ini ditulis, Wali Kota Jakarta Timur M. Anwar belum memberikan tanggapan resmi terkait kelanjutan proyek revitalisasi Pasar Munjul.

Kegagalan untuk memberikan tanggapan yang memadai dari pihak berwenang menimbulkan tanda tanya besar akan komitmen mereka dalam menangani masalah yang dihadapi oleh para pedagang.

Komentar