Budayawan Betawi Tanggapi Kota Jakarta, Perlawanan Terhadap ‘Pemutilasian’ Pembangunan Metropolis

Jakarta – Dalam sebuah konferensi pers seorang budayawan Betawi tanggapi Kota Jakarta, persoalan pembangunan terhadap ‘Pemutilasian’ Pembangunan Metropolis sekarang, yang diadakan di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (26/4/2024), Budayawan Betawi ternama, Yahya Andi Saputra, menyoroti dampak negatif dari pembangunan tersebut terhadap keberlangsungan kebudayaan tradisional.

Dalam konferensi pers tersebut, Yahya Andi Saputra dengan tegas menyatakan bahwa pembangunan di Jakarta telah ‘memutilasi kota’ dan merusak kebudayaan yang ada.

Ia menegaskan bahwa pembangunan tersebut tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga menghilangkan aspek-aspek budaya yang merupakan bagian integral dari identitas Jakarta.

Salah satu contoh yang disoroti oleh Yahya adalah pembangunan Pondok Indah di Jakarta Selatan. Menurutnya, pembangunan kawasan ini disertai dengan hilangnya kuliner tradisional seperti lepet dan asinan, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan kuliner masyarakat Betawi.

Selain itu, kawasan-kawasan pengrajin sepatu dan batik yang merupakan warisan budaya Jakarta juga telah hilang tergusur oleh gedung-gedung pencakar langit yang menjamur di berbagai titik strategis Jakarta seperti Jalan Gatot Subroto, Sudirman, MH Thamrin, dan Rasuna Said.

Dalam pandangannya, upaya pemerintah, baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pelestarian kebudayaan Jakarta.

Meskipun telah dikeluarkan berbagai peraturan daerah (Perda) dan kebijakan lainnya, namun Yahya menilai bahwa kehadiran pemerintah dalam menjaga keberlangsungan budaya ibarat “engkong gigi ompong, tidak ada gunanya sama sekali”.

Namun, di tengah kekhawatiran akan hilangnya identitas budaya Jakarta, ada sebuah tempat yang menjadi pengecualian, yaitu Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Tempat ini diatur dan dilindungi oleh Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2005, yang memuat berbagai ketentuan untuk menjaga keberlangsungan kehidupan budaya Betawi.

Baca Juga  Kebijakan Baru Perlindungan Lingkungan: Larangan Plastik Sekali Pakai di Seluruh Negara

Menurut Yahya, keberhasilan Kelurahan Srengseng Sawah bertahan sebagai benteng terakhir kebudayaan Betawi tidak lepas dari keterlibatan berbagai pihak, termasuk pilar-pilar penting seperti gubernur, wakil rakyat, aparat keamanan, dan pengambil kebijakan.

Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2005 menetapkan empat hal utama yang harus dilakukan dalam pembinaan Kampung Betawi, antara lain membina dan melindungi nilai-nilai budaya, menciptakan nilai seni budaya, menata lingkungan fisik, dan mengendalikan pemanfaatan lingkungan agar sesuai dengan ciri khas Betawi.

Komentar