Skandal Pungli Rutan KPK Terungkap, Tahanan Dipaksa Bayar untuk Mendapatkan Perlakuan dan Fasilitas

 

Skandal Pungli Rutan KPKKomisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap skandal pemerasan yang melibatkan oknum petugas di Rumah Tahanan Negara (Rutan) cabang KPK. Para tahanan diduga dipaksa membayar uang pungutan liar (pungli) untuk mendapatkan perlakuan yang lebih nyaman dan fasilitas tambahan.

Menurut keterangan Direktur Penyidikan KPK, Asep Guntur Rahayu, para tahanan yang terlambat atau tidak membayar pungli diberikan perlakuan yang tidak manusiawi, termasuk dikunci di dalam sel mereka. “Bagi para tahanan yang tidak atau terlambat menyetor (kepada oknum petugas rutan) diberikan perlakuan yang tidak nyaman. Di antaranya tahanan dikunci dari luar,” ujarnya dalam jumpa pers di Gedung Juang, Jakarta Selatan.

Perlakuan Tidak Manusiawi

Asep juga menambahkan bahwa tahanan yang tidak membayar pungli bisa dilarang untuk berolahraga atau bahkan diberikan piket lebih banyak sebagai bentuk tekanan. “Karena dalam satu waktu atau periode satu hari diberikan juga untuk kegiatan berolahraga dan lain-lain. Untuk menjaga kesehatan dari tahanan tersebut,” jelasnya.

Modus Pungli

Para tahanan dipaksa untuk membayar uang pungli, yang jumlahnya bervariasi mulai dari 300 ribu hingga 20 juta rupiah. Uang tersebut dikumpulkan oleh seorang koordinator tempat tinggal (korting) atau tahanan yang bertugas mengumpulkan uang pungli. Setelah terkumpul, uang pungli tersebut disetorkan kepada oknum petugas rutan yang bertanggung jawab.

Total Uang Terkumpul

Praktik pungli ini ternyata sudah terjadi sejak tahun 2019 hingga 2023 dengan total uang yang terkumpul mencapai Rp 6,3 miliar. Angka ini diperkirakan bisa bertambah seiring dengan perkembangan penyidikan yang dilakukan oleh KPK.

Tersangka dan Sanksi

Sebagai tindak lanjut dari pengungkapan skandal ini, KPK telah menetapkan sejumlah tersangka, termasuk oknum petugas rutan yang terlibat dalam praktik pungli. Mereka akan dikenakan Pasal 12 huruf e Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ancaman hukuman penjara.

Baca Juga  Hari Minggu Seru di Stadion Sultan Agung: Berolahraga, Berbelanja, dan Bersantai

Berikut daftar tersangka yang terlibat dalam praktik pungli di rutan cabang KPK:

  1. AF (Achmad Fauzi), Kepala Rutan Cabang KPK.
  2. HK (Hengki), Pegawai Negeri Yang Dipekerjakan (PNYD).
  3. DR (Deden Rochendi), PNYD.
  4. SH (Sopian Hadi), PNYD.
  5. RT (Ristanta), PNYD.
  6. ARH (Ari Rahman Hakim), PNYD.
  7. AN (Agung Nugroho), PNYD.
  8. EAP (Eri Angga Permana), PNYD.
  9. MR (Muhammad Ridwan), Petugas Cabang Rutan KPK.
  10. SH (Suharlan), Petugas Cabang Rutan KPK.
  11. RUA (Ramadhan Ubaidillah A), Petugas Cabang Rutan KPK.
  12. MHA (Mahdi Aris), Petugas Cabang Rutan KPK.
  13. WD (Wardoyo), Petugas Cabang Rutan KPK.
  14. MA (Muhammad Abduh), Petugas Cabang Rutan KPK.
  15. RR (Ricky Rachmawanto), Petugas Cabang Rutan KPK.

Sanksi Disiplin

Para tersangka akan diserahkan kepada pihak berwajib dan dijerat dengan hukum yang berlaku. Mereka juga akan ditahan di rutan cabang Polda Metro Jaya selama 20 hari ke depan untuk keperluan penyidikan lebih lanjut.

Pemulihan Integritas

KPK berkomitmen untuk membersihkan institusi dari praktik korupsi dan pungli yang merugikan masyarakat. Pengungkapan kasus ini menunjukkan upaya KPK dalam memulihkan integritas dan profesionalisme lembaga penegak hukum tersebut.

Pengungkapan kasus ini diharapkan menjadi peringatan bagi seluruh petugas rutan dan lembaga penegak hukum lainnya untuk menjaga integritas dan menjauhkan diri dari segala bentuk korupsi dan pungli. KPK siap untuk terus melakukan tindakan tegas terhadap siapapun yang terlibat dalam praktik-praktik korupsi yang merugikan masyarakat dan negara.

Komentar