Karaoke Sepi ‘Bak Kuburan’, Akibat Pajak Hiburan di DKI Jakarta Naik

Kenaikan pajak hiburan di DKI Jakarta yang semula 20% menjadi 40% mulai diberlakukan pada 1 Januari 2024. Kenaikan ini berdampak pada sepinya tempat-tempat hiburan, salah satunya karaoke.

Pantauan di salah satu tempat karaoke di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Kamis (18/1/2024) malam, tampak sepi dari pengunjung. Hanya ada beberapa meja yang diisi oleh pengunjung.

“Sejak kenaikan pajak hiburan, pengunjung jadi berkurang drastis,” kata salah seorang karyawan karaoke tersebut.

“Biasanya kalau malam Minggu ramai, sekarang sepi banget. Kayak kuburan,” ujarnya.

Hal serupa juga terjadi di tempat karaoke di kawasan lainnya di Jakarta. Beberapa tempat karaoke bahkan terpaksa menutup sementara karena sepi pengunjung.

Kenaikan pajak hiburan ini dinilai memberatkan pengusaha tempat hiburan. Mereka mengaku kesulitan untuk menutup biaya operasional dengan tarif pajak yang baru.

“Peningkatan pajak ini sangat memberatkan kami,” kata Ketua Asosiasi Karaoke Indonesia (AKI) DKI Jakarta, Triyono.

“Kami berharap pemerintah bisa memberikan keringanan,” ujarnya.

Pemerintah DKI Jakarta sebelumnya mengatakan bahwa kenaikan pajak hiburan ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Namun, kebijakan ini dinilai tidak tepat sasaran.

“Kenaikan pajak ini malah merugikan pengusaha dan pekerja di tempat hiburan,” kata pengamat ekonomi dari Universitas Trisakti, Tony Prasetiantoro.

“Pemerintah seharusnya mencari sumber pendapatan lain yang tidak memberatkan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga  Eksplorasi Perbedaan Budaya: Orang Bandung Terkejut dengan Nada Suara Tinggi dan Jiwa Merantau Orang Sumatera

Komentar