Targetkan Penurunan PM2,5 hingga 35%, Begini Strategi DLH DKI

Klaim bahwa Jakarta merupakan kota dengan polusi udara terburuk di dunia kembali ramai diperbincangkan. Klaim ini muncul setelah sebuah lembaga riset lingkungan asal Greenpeace menempatkan Jakarta pada peringkat pertama kota dengan polusi udara tertinggi di dunia pada tahun 2023.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengakui jika kualitas udara Jakarta memang masih buruk. Namun, klaim yang menyebut Jakarta sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia dinilai kurang tepat.

“Memang benar, indeks kualitas udara Jakarta pada 2022 masih terbilang buruk dengan rerata PM2,5 mencapai 50 μg/m3. Angka ini jauh melebihi ambang batas yang ditentukan WHO sebesar 15 μg/m3,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rabu (4/1/2023).

“Namun, kami rasa klaim yang menyatakan Jakarta sebagai kota terburuk di dunia perlu dikaji ulang. Sebab, beberapa kota di India, Pakistan, dan Tiongkok juga memiliki tingkat polusi udara yang sangat parah dengan kadar PM2,5 di atas 90 μg/m3,” imbuhnya.

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta berjanji akan terus berupaya meningkatkan kualitas udara ibukota dengan berbagai program penghijauan, pengendalian emisi kendaraan bermotor, serta penerapan standar emisi yang lebih ketat. Targetnya, kadar PM2,5 di Jakarta bisa turun hingga 35% pada tahun 2030 mendatang.

Selain upaya dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kontribusi dan peran serta masyarakat juga diperlukan untuk mengatasi masalah polusi udara di ibukota. Sejumlah aksi nyata yang bisa dilakukan antara lain mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum, menghindari membakar sampah sembarangan, serta menanam pohon di sekitar rumah dan kantor.

Dari sisi industri, upaya pencegahan pencemaran udara juga terus digalakkan, di antaranya dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan serta menggunakan bahan bakar yang lebih bersih. Pemerintah berjanji akan memberikan insentif bagi industri yang mampu menurunkan emisi.

Baca Juga  Membuat Tanah Humus: Cara Praktis Meningkatkan Kesuburan Tanah Anda

Ahli lingkungan dari Universitas Indonesia, Surya Tarigan, menilai upaya sungguh-sungguh dari berbagai pihak diperlukan untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta. Menurutnya, perbaikan kualitas udara bukanlah proses instan, namun membutuhkan kesabaran dan kerja keras jangka panjang.

“Kuncinya adalah konsistensi dan kolaborasi dari pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku industri. Jika upaya ini terus dilakukan secara berkelanjutan, kita optimistis kualitas udara Jakarta bisa membaik dalam 5-10 tahun ke depan,” pungkas Surya.

Komentar