Meta Berkomitmen Menghapus Konten Ilegal di Bawah Tekanan Otoritas Eropa

Meta, perusahaan di balik platform media sosial terkenal seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp, telah melakukan tindakan tegas terkait 795.000 konten berbahasa Ibrani dan Arab yang dinilai mengandung unsur menyesatkan dan tak akurat. Tindakan ini diambil menyusul peringatan yang diberikan oleh Thierry Breton, Komisioner Eropa untuk pasar internal, kepada raksasa teknologi mengenai kewajiban mereka dalam membersihkan konten ilegal dari platform mereka.

Dalam peringatan tersebut, Breton memberikan waktu 24 jam kepada penyedia platform media sosial untuk menghapus konten ilegal. Ancaman ini sesuai dengan aturan Digital Services Act (DSA) yang berlaku di wilayah Eropa. DSA mewajibkan platform dengan pengguna aktif bulanan lebih dari 45 juta untuk memantau dan menghapus konten ilegal. Pelanggaran aturan ini dapat mengakibatkan denda sebesar 6% dari total pendapatan di wilayah Eropa.

Breton menyatakan bahwa banyak konten yang tidak benar di media sosial telah memperpanas situasi antara Hamas dan Israel, terutama sejak pecahnya konflik pada pekan lalu. Dalam keterangan resmi, Meta (mantan Facebook) mengumumkan perluasan kebijakan mereka terkait konten kekerasan di platform mereka. Mereka telah menghapus konten yang menampilkan penyanderaan warga Israel oleh Hamas, tetapi konten dengan gambar korban yang dikaburkan masih diizinkan. Meta menjelaskan bahwa mereka memprioritaskan keamanan dan privasi para korban penculikan.

Meta juga menyatakan kesadaran mereka terhadap ancaman yang disebarkan oleh Hamas melalui footage dari korban penculikan. Mereka akan berupaya untuk memantau dan mencegah konten semacam itu disalin dan disebarluaskan.

Peringatan dari Komisioner Breton tidak hanya ditujukan kepada Meta. Ia juga mengirim surat kepada petinggi platform media sosial lainnya, termasuk Elon Musk dari Twitter dan Shou Zi Chew dari TikTok. Sejauh ini, Komisi Eropa telah membuka investigasi lebih lanjut terhadap platform Twitter. Elon Musk, sang bos Twitter, telah menyatakan kiatannya untuk patuh pada aturan yang berlaku di Eropa, meskipun belum ada komentar resmi dari perusahaan maupun Elon Musk sendiri.

Baca Juga  10 Penyebab Kebakaran Hutan di Pulau Sumatera, Banyak Dilakukan Secara Sengaja

Ancaman serius yang diberikan oleh otoritas Eropa terhadap raksasa teknologi dan media sosial menunjukkan betapa pentingnya isu keamanan dan kebenaran informasi di era digital ini. Kemampuan platform-platform ini untuk mengendalikan dan memantau konten yang diunggah oleh pengguna adalah hal yang sangat vital untuk mencegah penyebaran informasi palsu, terutama dalam situasi konflik seperti yang terjadi antara Hamas dan Israel. Terlebih lagi, keselamatan dan privasi korban penculikan dan penyanderaan harus diutamakan dalam semua tindakan yang diambil oleh platform-media sosial.

Kasus ini menjadi contoh nyata tentang bagaimana pengawasan pemerintah dan aturan yang ketat dibutuhkan untuk mengontrol perilaku dan kebijakan raksasa teknologi dalam menjaga keamanan dan kebenaran informasi yang beredar di platform mereka. Kami akan terus memantau perkembangan situasi ini dan melaporkan setiap tindakan lebih lanjut yang diambil oleh platform media sosial dan otoritas Eropa dalam upaya mengatasi konten ilegal dan menyesatkan di dunia maya.

Komentar