Viral, Jakarta Sempat Import Es Batu Karena Panas

Jakarta, 10 Oktober 2023 Indonesia, dengan iklim tropisnya yang hangat sepanjang tahun, bukanlah tempat yang asing bagi masyarakatnya untuk menghadapi cuaca panas yang terik. Namun, bagi orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia pada abad ke-19, sinar matahari tropis sering kali terasa terlalu menyengat untuk mereka.

Pada tahun 1845, salah satu hotel di Batavia, yang saat ini menjadi bagian dari kompleks Istana Merdeka, yaitu Hotel de Provence, memutuskan untuk menawarkan solusi inovatif: es batu. Es batu menjadi salah satu sajian andalan di hotel ini, terutama pada malam hari.

Sajian es batu di Hotel de Provence menjadi pilihan yang menarik bagi kedua masyarakat pribumi dan orang-orang Eropa yang tinggal atau mengunjungi Batavia. Hal ini dikarenakan es batu memiliki kemampuan luar biasa untuk mendinginkan suhu tubuh yang terasa panas. Namun, yang menarik adalah cara pembuatan es batu pada masa itu.

Pada abad ke-19, teknologi kulkas atau lemari pendingin yang kita kenal saat ini belum ditemukan di Hindia Belanda. Bahkan, tidak ada satu pun orang, baik itu bangsawan pribumi maupun orang Eropa, yang memiliki perangkat tersebut.

Mengingat kulkas atau lemari pendingin belum ada, impor es batu menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan es batu di Hindia Belanda. Ini adalah fakta yang menarik yang diungkapkan oleh sejarawan Achmad Sunjayadi dalam bukunya yang berjudul “Titik Balik Historiografi di Indonesia” (2008).

Menurut Sunjayadi, es batu menjadi sajian istimewa yang menarik bagi pengunjung Hotel de Provence Batavia. Pengunjung bisa menikmati segarnya es sambil menikmati pertunjukan musik. Sehingga, suhu tubuh yang panas akibat cuaca tropis seketika menjadi lebih nyaman dan sejuk.

Baca Juga  Terapi Imunologi: Revolusi Baru dalam Pengobatan Kanker

Orang yang berada di balik impor es batu oleh Hotel de Provence adalah Etienne Chaulan. Dia adalah pionir dalam penjualan es batu di Batavia. Berkat upayanya, hotel dan banyak orang lainnya ikut-ikutan membeli es batu untuk mengatasi cuaca panas yang terik.

Denys Lombard, dalam bukunya “Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia” (2008), menjelaskan bahwa keberadaan es batu di Hindia Belanda pada saat itu berasal dari Boston, Amerika Serikat. Es batu ini dibuat dengan prinsip pembekuan air menggunakan bantuan garam dan amoniak. Setelah membeku, es tersebut dicetak menjadi balok-balok besar. Barulah saat tiba di Hindia Belanda, balok-balok es tersebut dipecah sesuai dengan kebutuhan.

Dalam penelusuran pada tanggal 1 Maret 2022, harga es batu di Batavia pada masa itu sekitar lima sen per pon (pounds). Harga ini dianggap wajar, mengingat es batu bukanlah barang murah saat itu. Menurut Lombard, es batu pada masa itu dihargai tinggi karena memiliki peran penting dalam menjaga kenyamanan.

Dengan adanya es batu, bukan hanya suhu tubuh yang dapat diturunkan, tetapi juga makanan dapat diawetkan lebih lama. Oleh karena itu, impor es batu menjadi umum di masa kolonial. Namun, karena harganya yang mahal, hanya orang-orang kaya yang mampu menikmati kenyamanan ini.

Tetapi, seiring dengan masuknya pengetahuan tentang pembuatan es dan alat-alat produksinya ke Hindia Belanda, pabrik-pabrik es batu mulai bermunculan. Awalnya, pabrik-pabrik ini dimiliki oleh orang Eropa, tetapi seiring berjalannya waktu, orang-orang Tionghoa juga mulai memproduksi es batu secara mandiri.

Kemunculan pabrik-pabrik es batu ini akhirnya menutup pintu bagi impor es batu. Sejak itu, es batu menjadi barang yang tidak dapat dipisahkan dari berbagai hidangan saat cuaca panas. Es batu menjadi solusi yang efektif untuk menghadapi panas tropis yang kadang-kadang sulit ditangani.

Komentar