Kasus Penculikan dan Pemerasan, Kejahatan Paspampres dan Ancaman Mafia Tramadol

Berita tentang kasus penculikan dan penganiayaan warga Aceh hingga tindakan pemerasan yang melibatkan oknum Paspampres di Jakarta telah menjadi viral dan menarik perhatian.

Tragedi ini mencapai titik puncaknya ketika korban dinyatakan meninggal dunia pada hari Sabtu (26/8/2023), setelah sebelumnya menjalani perawatan di RSPAD sejak tanggal 15 Agustus yang lalu.

Dalam merespons berita yang menggemparkan ini, Sayed Muhammad Muliady, S.H., seorang anggota Komisi III DPR-RI periode 2009-2014 yang berasal dari Aceh dan juga seorang advokat, memberikan tanggapannya.

Tingginya pemberitaan mengenai penangkapan perantau Aceh yang sebagian besar baru saja merantau dan umumnya masih muda serta kurang berpengalaman di daerah Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan terakhir adalah kasus di Subang, Jawa Barat, semakin memperjelas keadaan ini.

Tidak sedikit pemuda Aceh yang tergoda untuk terlibat dalam bisnis ilegal ini akibat kesulitan ekonomi yang melanda di Ibukota.

Mereka merasa tak memiliki alternatif lain selain tunduk kepada “mafia” Tramadol yang memanipulasi situasi ini.

Bang Sayed, panggilan akrabnya, menceritakan tentang pengalaman sahabat dekatnya yang masih menjadi anggota Komisi III DPR-RI dari Dapil Aceh. Sahabat tersebut mengungkapkan bagaimana cara operasi para mafia ini.

Selain merekrut pemuda Aceh yang masih naif dan tengah mencari identitas di Jakarta, mereka juga memanfaatkan oknum-oknum dari TNI/Polri sebagai pendukung mereka.

Para oknum ini dipekerjakan sebagai pengancam dan penjaga bagi para pemuda yang bekerja di lapangan.

Jika ada pemuda yang berperilaku nakal, oknum-oknum tersebut bertindak sebagai pengontrol agar mereka tidak berani melawan “mafia” besar Tramadol.

Setelah mengungkapkan cara kerja mafia Tramadol seperti yang dikisahkan oleh sahabat dekat Bang Sayed, terbersit pemikiran bahwa ada kesamaan antara kejadian terkait mafia Tramadol dengan kasus Praka Riswandi Manik dan Imam Masykur.

Baca Juga  Penyebab Tragedi Halloween di Itaewon Seoul

Tidak hanya itu, ancaman gaya “mafia” ala Mexico dengan mengirimkan gambar dan video penyiksaan Imam Masykur kepada keluarganya sebagai tekanan agar mereka memberikan uang tebusan juga membuat situasi semakin rumit.

Namun demikian, Bang Sayed mengingatkan kita semua untuk memberikan kesempatan kepada aparat hukum untuk bekerja dan mengungkap kebenaran di balik semua ini.

Terlebih lagi, kasus ini telah menarik perhatian tidak hanya masyarakat Indonesia pada umumnya, tetapi juga masyarakat Aceh secara khusus.

Komentar