Sejarah Lahirnya Nahdlatul Ulama

Jakarta – Nahdlatul Ulama lahir pada tanggal 31 Januari 1926 sebagai reprensentatif   dari  ulama  tradisionalis,   dengan  haluan  ideologi  ahlus sunnah  waljamaah  tokoh-tokoh  yang  ikut  berperan  diantaranya  K.H. Hasyim Asy’ari. K.H. Wahab Hasbullah dan   para ulama pada masa itu pada saat kegiatan reformasi mulai berkembang luas, ulama belum begitu terorganisasi namun  mereka  sudah  saling  mempunyai  hubungan  yang sangat kuat. Perayaan  pesta seperti haul, ulang tahun wafatnya  seorang kiai, secara berkala mengumpulkan   para kiai, masyarakat sekitar ataupun para  bekas  murid  pesantren  mereka  yang  kini  tersebar  luas  diseluruh nusantara.

Berdirinya   Nahdlatul Ulama tak bisa dilepaskan dengan upaya mempertahankan ajaran ahlus sunnah wal jamaah (aswaja). Ajaran ini bersumber dari Al-qur’an, Sunnah, Ijma’(keputusan-keputusan para ulama’sebelumnya). Dan Qiyas (kasus-kasus yang ada dalam cerita al- Qur’an dan Hadits) seperti yang dikutip oleh Marijan dari K.H. Mustofa Bisri  ada  tiga  substansi,  yaitu  (1)  dalam  bidang-bidang  hukum-hukum Islam menganut  salah satu ajaran  dari empat  madzhab  (Hanafi,  Maliki, Syafi’I,  dan Hanbali),  yang  dalam  praktiknya  para  Kyai  NU  menganut kuat madzhab Syafi’I. (2) dalam soal tauhid (ketuhanan), menganut ajaran Imam Abu Hasan  Al-Asy’ari  dan Imam  Abu Mansur  Al-Maturidzi.  (3) dalam bidang tasawuf, menganut dasar-dasar ajaran Imam Abu Qosim Al-Junaidi.     Proses   konsulidasi   faham   Sunni   berjalan   secara   evolutif.

Pemikiran  Sunni  dalam  bidang  teologi  bersikap  elektik,  yaitu  memilih salah satu pendapat yang benar. Hasan Al-Bashri (w. 110 H/728) seorang tokoh Sunni yang terkemuka dalam masalh Qada dan Qadar yang menyangkut soal manusia, memilih pendapat Qodariyah, sedangkan dalam masalah pelaku dosa besar memilih pendapat Murji’ah yang menyatakan bahwa sang pelaku menjadi kufur, hanya imannya yang masih (fasiq). Pemikiran   yang   dikembangkan   oleh   Hasan   AL-Basri   inilah   yang sebenarnya    kemudian    direduksi    sebagai    pemikiran    Ahlus    sunnah waljama’ah.

Menurut Muhammad  Abu Zahra, perbedaan pendapat dikalangan kaum muslim pada hakikatnya menampak dalam dua bentu, yaitu Praktis dan  Teoritis.   Perbedaan   secara  praktis  terwujud   dalam  kelompok   – kelompok  seperti  kelompok  Ali bin Abi Tholib  (Syi’ah),  Khawarij  dan kelompok Muawiyah.

Baca Juga  Debt Collector Ditembak saat Sita Motor Tunggakan Warga

Bentuk kedua dari perbedaan pendapat dalam Islam bersifat  ilmiah  teoritis  seperti  yang  terjadi  dalam  masalah  ‘aqidah  dan furu’ (fiqih). Ahlus Sunnah Waljama’ah  sebagai salah satu aliran dalam Islam meskipun pada awal kelahirannya sangat kental dengan nuansa politiknya, namun, dalam perkembangannya diskursus yang dikembangkannya  juga masuk pada bagian wilayahseperti Aqidah, Fiqih, Tasawuf dan Politik.

Dengan haluan ideologi ahlus sunnah waljamaah ini lahir dengan alasan yang mendasar,  antara lain: Pertama;  Kekuatan  penjajah  belanda untuk meruntuhkan  potensi islam telah melahirkan  rasa tanggung  jawab alim ulama menjaga kemurnian dan keluhuran ajaran islam. Kedua; Rasa tanggung  jawab  alim  ulama  sebagai  pemimpin  umat  untuk memperjuangkan kemerdekaan dan membebaskan dari belenggu penjajah. Ketiga;  Rasa    tanggung  jawab  alim  ulama  menjaga  ketentraman  dan kedamaian bangsa Indonesia.

Komentar